From Slank for Slankers

From Slank for Slankers

Slank – From Zero to Hero (2)

No Comments Media Release

GeMusik News – Beberapa hari setelah berita perpecahan Slank menjadi cover story di majalah Hai, giliran Bimbim, Kaka dan Bunda Iffet datang ke kantor saya untuk memberikan klarifikasi yang tentu saja berbeda dengan pernyataan Pay, Indra dan Bongky. Mana yang benar nggak begitu penting, karena kedua belah pihak pastilah memiliki alasan sendiri-sendiri.  Saya tak ingin masuk terlalu jauh ke wilayah itu. Yang pasti, berakhinya pertemanan di antara mereka amat disesalkan. Para Slankers kecewa dan marah, tentu bisa dipahami. Namun bagi saya kebersamaan dengan formasi ini menyisakan momen yang tidak terlupakan.

Salah satu sudut markas Slank
Salah satu sudut markas Slank

Saat itu malam mulai larut saat kami menyudahi obrolan ngalor-ngidul. Saya baru beringsut beberapa ratus meter saja dari markas Slank di jalan Potlot lll, tepatnya di depan Makam Pahlawan Kalibata, ketika kendaraan yang saya kemudikan mendadak kempes ban. Panik karena di bagasi tidak membawa perlengkapan, saya kemudian menelepon mereka agar mengirimkan satu dua teman untuk membawa dongkrak. Di luar dugaan, ternyata personel Slank langsung berdatangan membantu. Jika tidak salah ingat, saat itu album Minoritas belum lama dirilis. Artinya, nama Slank tengah mencorong. Jadi, saat menyaksikan mereka beramai-ramai tengah mengganti ban mobil di pagi buta itu sesuatu banget. Adegan itu, seperti salah satu lirik lagunya, “terlalu manis untuk dilupakan” – ha ha!

Perpecahan dalam sebuah band pada dasarnya bukan sebuah hal aneh. Yang membedakan hanyalah cara masing-masing personel menyikapinya. Ada yang memilih bubar untuk suatu alasan, tidak sedikit yang memilih bertahan. The Beatles termasuk kategori pertama. Setelah menuding Yoko Ono sebagai biang kerok, Paul Mc Cartney menyatakan ogah meneruskan lagi karir band asal Liverpool tersebut. Padahal tanpa intervensi perempuan Jepang itu jangan-jangan mereka memang sudah waktunya bubar. Itu dikarenakan jauh sebelumnya antara John dan Paul sudah ribut melulu. Led Zeppelin bahkan lebih tegas. Sekitar dua hari pasca kematian drummer John Bonham, 25 September 1980, vokalis Robert Plant mengeluarkan pernyataan bahwa tak akan pernah ada lagi Led Zeppelin.

Akan halnya Slank memilih mengikuti jejak inspiratornya, The Rolling Stones. Bimbim dan Kaka merekrut Renold (gitar) dan Ivanka (bass). Formasi transisi ini melahirkan album Lagi Sedih, judul yang secara simbolis menggambarkan suasana psikologis kedua orang sepupuan itu. Toh fakta ini tidak lantas mengakhiri segala permasalahan. Renold, misalnya, cuma bertahan sebentar saja. Menurut kabar yang belum tentu benar, dia tak tahan dengan situasi dalam tubuh Slank saat itu. Langkah berikutnya semua orang tahu, kekosongan posisi gitaris segera diisi oleh Ridho Hafiedz dan Abdee Negara.

“Tadinya Slank cuma butuh satu gitaris aja, tapi waktu audisi mereka datang barengan. Setelah beres nge-jam, gue pikir seru juga kalau pakai dobel gitar,” kata Bimbim saat itu.

Berhenti atau lanjut tetaplah ada harga yang haru dibayar. Situasi parah yang dialami oleh Slank segera memunculkan peran Iffet Sidharta, ibu kandung Bimbim.

Bunda Iffet Sidharta
Bunda Iffet Sidharta

Ia seorang ibu rumah tangga biasa yang tidak mengerti apa-apa tentang manajemen artist. Akan tetapi kesulitan harus diatasi. Dikerahkannya anggota keluarga untuk menyelamatkan Slank dari kehancuran. Dengan segala keterbatasan, Bunda menghubungi pemilik kafe, panitia daerah dan entah siapa lagi sekadar berharap satu dua pertunjukan untuk band anaknya. Karena belum berpengalaman,  seberapa kali sempat ditinggal kabur panitia penyelenggara pertunjukan. Bunda tak mau menyerah.

“Kalau tidak begitu, bagaimana mau menghidupi anak-anak? Waktu itu kami tidak punya uang,” katanya saat ngobrol dengan saya pada sebuah masa.

Setelah mengangkat Ila Sidharta, putri bungsunya, sebagai manager Slank, dipanggilnya juga Denny Ahmad Ramadhan untuk kembali aktif. Pada nggak kenal dengan nama ini kan? Dia memang lebih beken dengan panggilan Bang Denny, mantan bassis formasi IV dan masih berasal dari lingkungan keluarga Sidharta. Sebagai Sarjana ekonomi, pas dong jika dirinya diminta untuk menata ulang administrasi. Akan tetapi saat mulai mengecek pembukuan, kepalanya langsung puyeng.

“Amburadul, man!”

Setelah beres melakukan penataan ulang, berdasarkan kesepakatan dibuatlah badan perusahaan bernama Pulau Biru Indonesia dengan struktur Iffet Sidharta (Direktur Utama), Denny Ahmad Ramadhan (Direktur Operasional), Bimbim (Komisaris) dan Kaka (Komisaris). Berbagai divisi dikembangkan, yaitu Pulau Biru Production, WarSlank, Slank Fans Club dan Slank Records. (Bersambung)

– Happy Anniversary –

Please follow and like us: