From Slank for Slankers

From Slank for Slankers

Liputan Konser Liztomania With Slank

No Comments #SlankDiary

Gelaran konser Liztomania with Slank “Not For Sale” pada Minggu, 18 September 2016 sukses menghipnotis semua yang hadir di konser perdana Slank di Gedung Kesenian Jakarta. Sejak awal, telah dijelaskan bahwa konser ini merupakan panggung demokrasi dimana Slank bakal menyampaikan uneg-uneg terkait kehidupan sosial, politik, narkoba, sampai lingkungan hidup.

Sebelum dimulai, Slank (minus Abdee) lebih dulu mengajak Slankers untuk mengumandangkan lagu Kebangsaan, Indonesia Raya disusul pemutaran Intro Indonesia dari album Virus. Begitu lampu dinyalakan dan tirai telah disingkapkan, hanya tampak puluhan manekin dengan pakaian-pakain modis berjejer di atas panggung. Di antara manekin tersebut, personil Slank yang pakai topeng mulai memainkan lagu Anarki Di RI dilanjut Hey Bung!.

Lagu selanjutnya adalah Jakarta Pagi Ini, tapi sebelum itu Slank lebih dulu menyapa sekaligus menjelaskan makna dari penempatan manekin-manekin di atas panggung Slank. Disampaikan oleh Kaka, keberadaan manekin ini ibarat masyarakat Ibukota yang berpakaian modis, namun di satu sisi mereka nggak punya jiwa. Slank pun berpesan semoga setelah konser ini, semua penonton yang hadir dengan membeli tiket masuk sebesar Rp.250ribu sampai Rp.750ribu bisa semakin peduli terhadap kehidupan sosial dan lingkungan di sekitarnya. Saat tirai kembali ditutup, Radar Pancha yang dikenal sebagai budayawan senior Indonesia membacakan puisi berjudul Parlemen Gerutu disusul Slank yang langsung menggebrak panggung Liztomania dengan lagu Bobrokisasi Borokisme dilanjut Birokrasi Complex.

Dikarenakan kapasitas penonton Gedung Kesenian Jakarta terbatas, maka hanya 451 tiket yang dapat dipesan. Di antara ratusan penonton yang hadir, ternyata ada orang no.1 di DKI Jakarta yakni pak Ahok yang duduk di kursi penonton bagian tengah. Slank pun mengundang pak Ahok untuk memberikan sepatah dua patah kata di atas panggung terkait konser Liztomania. Tanpa banyak omong, pak Ahok cuma bilang, “Itu lagu (Birokrasi Complex) dari tahun 95/96 kan, birokrasi Jakarta mah nggak bakal complex lagi, kalau masih ada langsung gue pecat!” Hal ini pun langsung bikin semua penonton tertawa dan tepuk tangan.

Setelah itu, Slank yang sudah sembuh dari drugs sejak tahun 2000, kembali melontarkan kegusarannya terhadap narkoba yang menjerat warga Indonesia hingga membuat banyak orang terperosok makin dalam. Ternyata di tahun 2016 masih ada aja orang-orang yang bernasib sama dengan sesosok wanita yang ditokohkan di lagu Jinna (Belasan Dalam Pelarian). Guna membuktikannya, Slank mengundang seorang wanita (sebut saja Jinna) yang curhat soal keterpurukan hidupnya gara-gara narkoba. Slank pun memainkan lagu Jinna (Belasan Dalam Pelarian) dengan penampilan Nikita Mirzani yang membacakan puisi di tengah lagu, dilanjut lagu Gara Gara Kamu.

Usai memainkan lagu Lembah Baliem dengan Ridho yang memainkan alat musik Sampe, Slank lanjut membawakan lagu Jerry (Preman Urban) dan menutup babak pertama konser Liztomania with Slank “Not For Sale”. Baru kali ini Slank konser dengan waktu jeda yang cukup lama, yakni sekitar setengah jam guna ngasih waktu buat penonton sekedar ngopi-ngopi di area Gedung Kesenian Jakarta.

Pukulan gong berulang kali dan suara sirine yang menandakan akan dimulainya babak kedua Liztomania, mengundang penonton untuk kembali duduk di kursinya masing-masing. Begitu tirai kembali dibuka, set panggung Slank udah berubah dan kali ini, wajah Ibukota dengan pedagang-pedagang kaki lima dan kendaraan ikonik Jakarta yakni bajaj ditampilkan di atas panggung Liztomania with Slank “Not For Sale”.

Di antara warga yang lalu lalang di zebra cross, tampil Marsha Timothy yang membacakan puisi karya Moammar Emka dengan iringan musik dari piano yang dimainkan oleh Christabel Annora. Setelah itu, pianis muda asal Malang itu pun memainkan intro lagu Gemerlap Kota yang langsung bikin Slankers histeris. Bersama Slank dengan Bim2x yang kali ini memainkan drum sambil berdiri, Christabel menyanyikan lagu yang berkisah soal Udin & Boy dari album Minoritas.

Nggak berhenti di situ, Slank pun “membangkitkan” kembali sosok Bung Karno di atas panggung Liztomania. Adalah Tio Pakusadewo dengan tampilan ala Bung Karno yang berorasi dengan materi yang disadur dari perkataan asli Bung Karno dengan penambahan beberapa kalimat yang mungkin bakal disampaikan Bung Karno apabila beliau bangkit kembali di jaman sekarang, dimana banyak pemuda-pemudi yang jadi Genduk alias Generasi Menunduk. Kemudian, Slank kembali melanjutkan penampilannya yang kali ini membawakan sebuah lagu dari album Slankissme yang jadi tema konser Liztomania yakni Freedom (Not For Sale) sesuai dengan idealisme Slank yang nggak bisa dibeli.

Kejutan kembali dihadirkan Slank saat memainkan lagu Ku Tak Bisa. Sewaktu masuk part interlude, secara mengjutkan Abdee masuk dari sisi kiri panggung dan bikin penonton nggak tahan untuk duduk saja di kursi mereka. Hasil penjualan tiket konser Liztomania juga akan disumbangkan untuk para musisi jalanan dari Institut Musisi Jalanan dan secara simbolis, Slank bersama Eugene Panji selaku program director Liztomania menyerahkannya ke pemuda-pemuda yang kemudian berkolaborasi bareng Slank memainkan lagu Tong Kosong yang disebut sebagai lagu terakhir dalam penampilan Slank. Seolah belum puas, para penonton berteriak “we want more” berulang-ulang.

Dengan formasi lengkap, Slank kembali ke atas panggung membawakan lagu Terlalu Manis, Mars Slankers dan ngeSlank Rame-Rame diakhiri memainkan perkusi. Kejutan terakhir yang Slank hadirkan adalah, kelima personil Slank sempat menghilang dari panggung dan tiba-tiba muncul dari sebelah kursi penonton. Hal ini pun berhasil bikin semua penonton mendapat kepuasan luar biasa usai menyaksikan Liztomania with Slank “Not For Sale”.

Terima kasih untuk semua yang telah hadir dan terlibat di panggung perdana Slank di Gedung Kesenian Jakarta. Sampai jumpa lagi!
PLUR4LL

 

 

Photos: Wahyu Budiarto
Words: RenkaStres

Please follow and like us: