From Slank for Slankers

From Slank for Slankers

Mereka Tertular “Virus” Mengawal Suara Rakyat

No Comments Media Release

KOMPAS.com — Riuh rendah pemilu presiden kali ini membawa nuansa baru pada iklim berdemokrasi di Indonesia. Antusiasme warga tak hanya terlihat pada kemauan mereka memberikan suara. Kemauan untuk mengawal suara dari kecurangan juga mengemuka, tak terkecuali bagi penggemar grup musik Slank.

Siapa yang berani menyangkal kebesaran nama grup rock Slank di Indonesia. Penggemarnya banyak dan fanatik. Ketika idolanya memberikan suara kepada salah satu kandidat, penggemarnya pun bergerak. Sistem organisasi hingga tingkat desa memungkinkan hal itu terjadi.

Dede (25), warga Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, adalah penggemar berat Slank sejak tahun 2001. Tahun itu adalah tahun kala Bimbim, Kaka, Abdee, Ridho, dan Ivan mengeluarkan album berjudul Virus. “Sejak itu saya ketularan virus Slank,” kata lulusan SMA itu sambil terbahak.

Senin (14/7/2014) lalu, saat mentari terik bersinar, Dede mendatangi kantor Kecamatan Cisaat, mengenakan kaus hitam, celana jins ketat berwarna hitam, dan sandal jepit. Ada tas kecil yang terkalung di badannya. Di dalam tas itu, ia membawa buku catatan dan juga formulir kosong.

Formulirnya berkop Slank Fans Club Sukabumi (SFCS). Kolom di bawahnya bertuliskan nama dua pasang calon presiden dan calon wakil presiden, jumlah suara sah, serta jumlah suara tidak sah. Isian itu serupa dengan berita acara di lembar formulir C1 keluaran Komisi Pemilihan Umum di tingkat kelurahan.

Dede menemui Sekretaris Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Cisaat Yanti Budiningsih. Dede, sesuai keterangan Yanti, mencatat seluruh data yang diperlukannya. Data itu akan ia laporkan kepada ketua organisasinya. Dede juga mendatangi kantor Kecamatan Kadudampit, sekitar 8 kilometer dari Cisaat, menunggang skuter matic pribadinya untuk mencari data yang sama.

Dede mengaku rela melakoni kegiatan yang ia sebut tidak pernah terpikirkan dalam hidupnya itu. Mencatat dan membandingkan data hasil rekapitulasi suara pemilu baru dilakukannya kali ini. “Supaya suara saya tidak dicurangi oleh negara,” ujar dia.

Sehari-hari Dede adalah pemuda yang gemar nongkrong setiap akhir pekan. Ia tidak punya pekerjaan tetap. Rutinitasnya adalah menjaga toko kecil yang menjual kaus Slank di dekat rumahnya. Ia berpartisipasi aktif dalam pemilu kali ini karena dipengaruhi sikap politik grup band idolanya itu.

“Slank ikut dalam Konser Dua Jari di Jakarta. Ya, mereka mendukung Jokowi (Joko Widodo). Namun, tidak ada arahan untuk ikut mencoblos Jokowi. Kami dibebaskan bersikap,” kata dia.

Pengalaman pertama

SFCS berdiri tahun 1998 dan melewati banyak pemilu dan juga pemilu kepala daerah. Endang Setiawan (35), Ketua SFCS, mengatakan, kelompoknya baru pertama kali terjun langsung mengawal penghitungan suara.

“Kami mengerahkan Slankers (sebutan untuk penggemar Slank) untuk mengawasi penghitungan suara di tempat pemungutan suara masing-masing hingga tingkat kabupaten/kota,” kata Endang. Ada sekitar 50 anggota yang ditugaskan di wilayah Kota Sukabumi saja. Anggota kelompok penggemar itu sekitar 3.000 orang.

Kelompok yang dipimpin Endang terafiliasi dengan Paguyuban Slankers Jawa Barat. Namun, ia tegas menyatakan, kelompok itu tidak melekat dengan partai politik mana pun. Oleh karena itu, biaya operasional relawan bersumber dari induk kelompok penggemar di tingkat pusat, Pulau Biru.

“Setiap relawan ada uang lelah, ya untuk membeli bensin dan kopi. Besarnya Rp 75.000 per orang selama ia bertugas,” kata Endang yang bekerja sebagai buruh pabrik suku cadang sepeda motor di Cikarang, Bekasi, Jabar. Ada 54 anggotanya yang terdaftar sebagai pengawal suara di 47 kecamatan di Kabupaten Sukabumi dan 7 kecamatan di Kota Sukabumi.

Oleh karena baru sekali terlibat dalam proses politik, banyak kendala yang ditemui relawan di lapangan. Awan (27), misalnya, mengaku dipersulit saat mengawasi rekapitulasi suara di Kecamatan Cicurug. Asal-usul organisasinya dipertanyakan oleh aparat kecamatan.

“Kami bekerja tidak memakai surat tugas dan seragam khusus. Informasi tentang perolehan suara, kan, sebenarnya hak publik, jadi kami tak terlalu memusingkan kendala itu,” ujar Endang lagi.

Begitulah Slankers. Keteguhan mereka teruji seiring eksistensi grup band yang dibentuk tahun 1983 itu. Memantau penghitungan suara di lingkungan tempat tinggal mereka bukan hal yang berat. “Jangankan mendatangi kantor kecamatan yang dekat rumah, konser Slank di Yogyakarta saja didatangi,” kata Dede.

Partisipasi warga

Sementara itu, hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Minggu lalu, sejak subuh tidak menghalangi Siswadi (37) dari Panitia Pemungutan Suara (PPS) Desa Tlogotuwung, Randublatung, untuk mendatangi kantor kecamatan. Hari itu kebetulan jadwal rapat pleno penghitungan surat suara Pilpres 2014 tingkat kecamatan.

Sebagai Ketua PPS, Siswadi bertanggung jawab mengawal surat suara dari warga dua dusun, yakni Tlogotuwung dan Clirung. Dusun itu terpencil, di tengah kawasan hutan jati, sekitar 17 kilometer dari Kecamatan Randublatung atau 36 kilometer dari Kota Blora. “Setiap hujan, jalan desa kami menjadi kubangan lumpur sehingga tidak bisa ditembus dengan kendaraan roda empat,” kata dia.

Rapat rekapitulasi penghitungan suara Pilpres 2014, dipimpin Ketua PPK Randublatung Nunung Juliani, semestinya dimulai pukul 09.00. Namun, hujan deras dan jarak antardesa yang jauh membuat acara itu baru berlangsung pukul 10.50. Rapat dijaga sejumlah polisi dari Polsek Randublatung serta dihadiri saksi dari kedua pasang capres-cawapres dan perwakilan kecamatan.

Tingkat partisipasi pemilih di kecamatan itu relatif tinggi, sekitar 70 persen. Oleh karena itu, Kepala Polsek Randublatung Ajun Komisaris Slamet mengingatkan, rapat rekapitulasi itu penting untuk menjaga suara yang dipercayakan rakyat. Kalau bisa, semua permasalahan yang terjadi dapat diselesaikan di tingkat kecamatan melalui musyawarah.

Menurut anggota Panitia Pengawas Pemilu Kecamatan Randublatung, Arif Nugroho, pemungutan suara Pilpres 2014 di kecamatan itu berlangsung lancar. Meski pemilih adalah warga desa terpencil, partisipasi mereka begitu tinggi.

Warga Randublatung, Widodo, menambahkan, warga antusias ke tempat pemungutan suara, kali ini bukan karena dibayari oleh seseorang, seperti saat Pemilu Legislatif 9 April lalu. Warga sadar untuk mendukung calon presiden pilihannya. Oleh karena itu, mereka pun terus mengawal suaranya sampai di kecamatan.
(Herlambang Jaluardi/Winarto Herusansono)
Sumber : Kompas.Com

Please follow and like us:

Have your say