From Slank for Slankers

   No rekening donasi atas nama Iffet Veceha Sidharta | BRI : 0426-01-000374-56-2 | BCA : 1280-331062 | Mandiri : 124-00-0993372-3 | Total sumbangan : Rp. 226,668,600

From Slank for Slankers

SLANK “MEMBONGKAR” BENAK PENONTON | Red Mild Tour Manado

No Comments #SlankDiary

Bagaikan memasuki mesin waktu. Seperti itu perasaan saya ketika menyaksikan Slank, 14 Mei 2013 lalu di stadion Klabat, Manado. Konser di awali oleh Bimbim yang berdiri di balik set drum sembari melantunkan “Bidadari Penyelamat” dari album “Minoritas”. Nomor yang juga menjadi soundtrack sebuah sinetron anak muda di stasiun televisi swasta di pertengahan 90-an.

Semuanya bagai terhipnotis. Belum hilang kekaguman dengan aksi Bimbim, penonton kembali dikejutkan dengan kemunculan Ridho, Kaka, Abdee dan Ivan yang berhamburan dari sisi kiri dan kanan stage. “Memang” hit lawas dari debut album Slank yang rilis di penghujung tahun 1990 menghentak, memacu adrenalin. Kali ini tentunya dengan sound yang lebih fresh.

Disusul oleh “Gara-Gara Kamu”,”Orkes Sakit Hati”, “Tonk Kosong”, dan “Balikin”. Para Slanker benar-benar di ajak melompat dari album ke album. Bimbim yang biasanya hanya menimpali celotehan Kaka, kali ini justru yang menceritakan tentang lagu yang akan dinyanyikan Kaka. “Lagu ini bercerita tentang dikhianati perempuan,” ujarnya dan melantunlah “Gak Welcome” yang di ambil dari double album “999+09” dengan iramanya yang mengalun lambat membuat kita bagai melayang.

Lagu yang direkam di saat sebagian personel Slank sedang berada di puncak ketergantungan akan drugs, sebagaimana yang diceritakan Kaka beberapa tahun silam ketika Slank tampil di sebuah cafe di Jakarta. “Lagu ini panjang banget, maklum bikinnya waktu kita masih mabok,” cerita Kaka soal lagu “Gak Welcome”.

Kembali ke konser ROAD TO 30TH SLANK ANNIVERSARY yang disponsori oleh Gudang Baru dan Manado merupakan kota kelima dari enam kota yang dijadwalkan dalam tur ini. Malam itu seperti biasanya Kaka sebagai frontman berhasil menjalin komunikasi dengan penonton.

Tetapi bila diperhatikan dengan seksama, ada beberapa perubahan yang terlihat.Ivan mulai memelihara jenggot. Ridho juga yang biasanya kelimis, kini membiarkan kumis dan jenggotnya tumbuh. Abdee terlihat makin gondrong. Sedangkan Bimbim masih tetap berambut pendek. Bunda Iffet, manager Slank punya pendapat sendiri mengenai gaya rambut sang drummer Slank ini. “Dibandingkan ketika ia masih gondrong, justru yang sekarang lebih keluar auranya,” tutur Bunda Iffet kepada saya awal 2011 silam di bandara Sepinggan, Balikpapan. Kala itu Slank baru saja memeriahkan acara malam tahun baru di Tenggarong. Sedangkan Kaka makin berotot. Namun ada hal baru dari Kaka kali ini, yaitu minum teh tanpa gula. Seperti yang dimintanya di acara jumpa fans beberapa jam sebelum konser. Pantas aja kotak-kotak di perutnya terjaga dengan baik.

Lebih dari 20 lagu digeber Slank malam itu. Mereka main abis-abisan. Gak kelihatan sedikit pun bahwa sebentar lagi band ini genap berusia 30 tahun. Para rockstar ini juga gak lupa menyisipkan rasa nasionalisme dengan memasukkan lagu “Garuda Pancasila” di tengah lagu “Jurustandur”. Saking semangatnya, Kaka sempat kena sengatan listrik ketika memanjat tiang di kanan stage. “Sialan, kesetrum gw,” ujarnya di tengah jeda lagu. Ia juga masih sempat “menyibukkan” anggota Bidadari Penyelamat (BP) yang berada di kanan stage saat ia naik ke stage kecil tempat kameramen berada.

Konser yang berlangsung sekitar dua jam tersebut berhasil mengobrak-abrik kenangan di benak para penonton yang hadir malam itu. Deretan lagu yang di ambil dari 16 album studio dan 1 album soundtrack film layar lebar, yang dirilis dalam rentang waktu antara tahun 1990 hingga 2010.

Nggak usah ngebayangin berapa banyak orang atau Slankers dalam kurun waktu tersebut yang menjadikan lagu-lagu Slank sebagai soundtrack hidupnya. Entah berapa banyak pula orang tua, kakak, atau paman yang “meracuni” anak, adik atau keponakan mereka dengan lebih dari 250 lagu Slank. Eh, tapi ada juga lho anak yang “meracuni” orangtuanya dengan virus Slank.

Sebelumnya sempat tersiar kabar bahwa konser ini dilarang berlangsung di stadion Klabat. Beruntung masalah ini dapat di atasi. Dan Slank menjadi band pertama yang menggelar konser di stadion ini setelah sekian lama tidak digunakan untuk pertunjukkan musik. Jadi nggak sia-sia juga kedatangan rombongan Slankers dari Bitung, Tomohon, Kotamobagu, Gorontalo, Palu, Tidore bahkan Makassar, selain Torang Slankers Manado (TSM) alias SFC Manado sebagai tuan rumah, yang telah mempersiapkan diri beberapa hari sebelumnya demi menyaksikan idola mereka.

“Kamu Harus Pulang” menjadi penanda usainya konser ini. Rasa puas terpancar dari wajah para penonton meski pakaian basah entah oleh peluh atau air yang disiram regu pemadam. Begitu juga sebagian anggota BP yang basah bajunya gara-gara selang air dari kendaraan regu pemadam yang yang bocor.

Tapi saya masih penasaran kenapa malam itu Slank gak ngebawain lagu “Punya Cinta” atau “Tak Tak Tak” dari album “I Slank U”. Dua lagu yang menurut saya bikin Slank tampil beda. Bergaya ala melodic punk atau modern rock. Mungkin ini juga salah satu rahasia umur panjang Slank, selalu beradaptasi dengan perkembangan jaman. Tanpa harus kehilangan karakternya.

Tulisan bikinan : Iwan B
Foto jepretan : Wahyu Budiarto

Please follow and like us:

Have your say